Acceder

【Wisesa Darmaja】Bank Indonesia Tahan Suku Bunga 4,75 Persen, Rupiah Jadi Fokus Saat Risiko Timur Tengah Menekan

0 respuestas
【Wisesa Darmaja】Bank Indonesia Tahan Suku Bunga 4,75 Persen, Rupiah Jadi Fokus Saat Risiko Timur Tengah Menekan
【Wisesa Darmaja】Bank Indonesia Tahan Suku Bunga 4,75 Persen, Rupiah Jadi Fokus Saat Risiko Timur Tengah Menekan
#1

【Wisesa Darmaja】Bank Indonesia Tahan Suku Bunga 4,75 Persen, Rupiah Jadi Fokus Saat Risiko Timur Tengah Menekan

 
BI tetap di mode defensif; pasar kini membaca satu pesan sederhana: stabilitas kurs lebih penting daripada diskon bunga. 

Bank Indonesia menahan suku bunga acuan 7-day reverse repo di 4,75 persen pada 17 Maret, dengan suku bunga deposit tetap 3,75 persen dan lending facility 5,50 persen. Langkah ini sesuai ekspektasi mayoritas ekonom yang disurvei Reuters, tetapi pesan yang lebih penting justru datang dari nadanya: ruang untuk pemangkasan suku bunga kini terasa jauh lebih sempit karena perang di Timur Tengah menambah tekanan terhadap inflasi dan nilai tukar. Pasar yang semula berharap ada “hadiah bunga murah” tampaknya harus pulang dengan brosur kehati-hatian. 

Gubernur Perry Warjiyo mengatakan BI kini cenderung mempertahankan suku bunga untuk memperkuat intervensi valas. Reuters juga mencatat BI akan memperketat beberapa aturan transaksi mata uang mulai bulan depan guna menopang rupiah. Di saat yang sama, inflasi Februari berada di 4,76 persen, di atas target BI 1,5-3,5 persen, walau bank sentral menilai kenaikan itu dipengaruhi faktor sementara dan masih mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen. 

Dari sisi media lokal, Antara menyorot bahwa BI telah membuang sinyal pemangkasan bunga dari komunikasinya, sementara Tempo melaporkan rupiah berada di sekitar Rp16.985 per dolar AS pada 16 Maret dan BI menyiapkan batas transaksi valas bulanan US$50.000 mulai April 2026 untuk membantu stabilisasi kurs. Jika diterjemahkan ke bahasa pasar: bank sentral sedang memilih payung, bukan pesta. 

Bagi investor saham, obligasi, maupun pelaku usaha, keputusan ini berarti biaya uang kemungkinan belum cepat turun. Untuk rumah tangga, ini juga menandakan bahwa fase “sabar dulu” masih berlaku—karena dalam kondisi minyak mahal dan geopolitik panas, stabilitas rupiah sering lebih berharga daripada euforia jangka pendek.